Kursus Bahasa Inggris Online

Nah, kursus bahasa inggris online yang kita bahasa ini merupakan kursus dengan metode full conversation dengan hanya bayar sekali anda sudah mendapatkan beberapa fasilitas termasuk ujian dan sertifikat skala nasional jika lulus ujian.

Lebih lengkapnya dalam kursus ini anda akan mendapatkan :

1. Paket DVD berisi 32 Lesson dalam bentuk MP3, Ebook PDF dan Software Pendukung (modul ini juga tersedia dalam bentuk file download di member area)

2. Hak akses dalam private forum sebuah komunitas untuk Anda saling mengenal dan berlatih dengan sesama peserta pelatihan dan juga langsung dengan Mr Teguh Handoko sendiri

3. Hak mengikuti Ujian Akhir baik secara tertulis (email) maupun Speaking via Phone

4. Bagi yang lulus berhak memperoleh Sertifikat bahasa Inggris berizin Skala Nasional


Baca detail lengkap kursus bahasa inggros online ini DISINI

Readmore..

Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan kerajaan Kutai, yaitu sekitar 450 Masehi, di sekitar wilayah Jawa Barat dan Banten muncul Kerajaan Tarumanegara yang beribukota di Jayasinghapura. Nama Tarumanegara diduga berasal dari taruma yang berarti nila. Para ahli belum dapat memastikan keterkaitan nama Tarumanegara dengan nama sebuah sungai , yakni Citarum yang mengalir di Jawa Barat. 

Keberadaan Kerajaan Tarumanegara diketahui dari tujuh buah prasasti, dua arca wisnu, dan berita China. Lima prasasti ditemukan di Bogor, sedangkan sisanya masing-masing berada di Jakarta dan Banten. Adapun Prasasti yang terdapat di Bogor adalah sebagai berikut :

a. Prasasti Ciaruteun yang terketak dipinggir sungai Ciaruteun dan bermuara didekat sungai Cisadane. Prasasti ini sebelumnya dikenal dengan nama prasasti Ciampea.

b. Prasasti Jambu atau prasasti Koleangkak, terletak di daerah perkebunan Jambu,berjarak 30 km sebelah barat Bogor.

c. Prasasti kebon kopi, terletak dikampung muara Hilir, Cibungbulang.

d. Prasasti pasir awi di muara Cianten.

e. Prasasti muara Cianten di muara Cianten.

Prasasti yang terdapat di Banten, yaitu prasasti Cidanghiang atau prasasti Lebak. Prasasti Cidanghiang ditemukan dipinggir sungai Cidanghiang, pandeglang. Adapun prasasti yang terdapat di Jakarta adalah prasasti tugu. Prasasti tugu merupakan prasasti yan gterkahir ditemukan. Prasasti ini memiliki berita paling panjang dibanding prasasti-prasasti lain yang berkisah tentang kerajaan Tarumanegara.


Dalam prasasti tugu dikatakan bahwa Raja Purnawarman telah menggali sungai Gomati dalam masa pemerintahannya yang ke-22. Panjang sungai 6122 busur (sekitar 12 km). Yang dikerjakan dalam waktu 21 hari. Sungai ini dibuat setelah sebelumnya masyarakat selesai melakukan penggalian sungai Chandrabhaga. Pada akhir pekerjaan penggalian, Raja Purnawarman sebagai Raja kerajaan Tarumanegara memberikan hadiah 1000 ekor lembu kepada para Brahmana.


Sungai Gomati digali untuk mengantisipasi bahaya banjir aliran sungai Chandrabhaga. Upaya Purnawarman ini menyiratkan betapa penuh perhatian seorang Raja kerajaan Tarumanegara kepada rakyatnya. Pekerjaan menggali sungai dilakukan secara bergotong royong dan tanpa paksaan. Hal ini memberi arti Raja Purnawarman telah berhasil menciptakan suasana damai dan tenteram di kerajaannya.

Prasasti-prasasti peniggalan kerajaan Tarumanegara ditulis dengan huruf pallawa dengan bahasa Sansekerta. Bentuknya syair. Agama yang menentukan corak pikiran sang raja adalah agama Hindu. Buktinya, pada prasasti Ciaruteun terdapat lukisan dan tapak kaki raja seperti kaki Wisnu. Wisnu ialah dewa pemelihara alam dalam agama Hindu. Didalam prasasti kebon kopi terdapat pula gambar tapak kaki gajah sang raja yang disamakan dengan tapak kaki gajah Airawata, yaitu gajah Indra.

Selain prasasti, berita kerajaan Tarumanegara juga diperoleh dari Cina. Orang-orang Cina menyebut kerajaan Tarumanegara dengan sebutan To-lo-mo. Pada masa Dinasti sui dan Dinasti Tang. Beberapa kali kerajaan Tarumanegara mengirimkan utusan ke negeri Cina. Hal ini menyiratkan bahwa keberadaan Tarumanegara telah diakui kekaisaran Cina dan hubungan diplomatik telah terjalin antara keduanya. Demikian juga Fa Hien, seorang pendeta Cina pernah singgah di kerajaan Tarumanegara selama lima bulan pada tahun 414 Masehi. menurutnya agama yang dianut masyarakat Tarumanegara bukan hanya Hindu, melainkan juga agama Buddha dan agama “kotor”. Penganut agama Buddha sedikit sekali. Demikian pula agama Hindu yang baru mempengaruhi kalangan istana. Berbeda halnya dengan agama “kotor” yang dianut oleh bagian terbesar dari rakyat Tarumanegara. Menurut para ahli, agama “kotor” tersebut adalah kepercayaan masyarakat yang memuja roh nenek moyang (animisme).

Pada awal abad ke-5 Masehi penduduk kerajaan Tarumanegara telah mampu mengusahakan pertanian, peternakan, perikanan, perburuan binatang, pelayaran, perdagangan dan pertambangan. Pertanian yang dikerjakan terutama padi yang merupakan makanan pokok penduduk. Peternakan yang dilakukan misalnya Lembu, terbukti dengan adanya upacara yang menghadiahkan 100 ekor lembu kepada para Brahmana. Kegiatan perikanan berupa produksi kulit penyu. Perburuan binatang bukan hanya terhadap binatang yang diambil dagingnya, melainkan juga badak dan gajah yang dapat diambil cula dan dagingnya sebagai komoditas ekspor. Usaha pertambangan dapat diketahui dari berita Cina yang mengatakan negaranya mendapatkan emas, perak dan benda perunggu dari kerajaan Tarumanegara.

Kerajaan Tarumanegara ternyata menaruh perhatian juga pada bidang kesenian, khususnya seni patung. Hal ini diketahui dari penemuan dua arca wisnu di desa cibuaya, karawang. Bentuk kedua arca memperlihatkan aliran seni di Jawa Barat pada saat itu. Arca ini ternyata mempunyai persamaan dengan langgam seni patung dari India pada abad ke-7 Masehi. Beberapa ahli menyebutkan bahwa tarumanegara sempat menjadi salah satu pusat seni pada abad tersebut.

Akhir dari keberadaan kerajaan tarumanegara tidak begitu jelas. Berita Cina hanya menyebutkan bahwa utusan terakhir Tarumanegara yang datang ke negaranya, yaitu pada tahun 666 dan 669 Masehi. oleh sebab itu, beberapa ahli menduga kerajaan tarumanegara runtuh pada abad ke-7.


Readmore..

Sejarah kerajaan Melayu

Berita pertama kali yang menerangkan kerajaan melayu di Sumatera, yaitu dari Dinasti Tang. Menurut catatan Dinasti Tang, utusan ke negeri mo-lo-yeu (melayu) pernah datang ke Cina pada tahun 644 dan 645 masehi. mereka datang ke Cina dengan membawa hasil Bumi. Hasil Bumi yang dipersembahkan itu bukan merupakan upeti sebagi tanda takluk melayu kepada Cina, melainkan sebagai upaya promosi hasil Bumi melayu ke negeri Cina. 

Banyak ahli yang berpendapat bahwa kerajaan melayu di daerah Jambi sekarang ini. Melayu terletak didekat selat Malakayang merupakan jalan perdagangan India-Cina. Oleh karena itu, banyak kapal asing yang berlabuh di melayu sambil menunggu angin yang baik sebelum melanjutkan perjalanan. Selain itu, kapal-kapal asing tersebut dapat memperbaiki peralatan kapal, melakukan bongkar muat barang, dan menambah perbekalan. Pada saat itu pelabuhan melayu telah berperan sebagai tempat menimbun barang dagangan yang dihasilkan daerah-daerah sekitarnya. Barang komoditas itu diantaranya lada dan hasil hutan. Kondisi ini tentu saja menguntungkan dan memakmurkankerajaan melayu.

Seorang pendeta Cina bernama I-tsing mengabarkan bahwa sejak tahun 692 kerajaan melayu telah ditaklukkan kerajaan Sriwijaya. Setelah itu sampai permulaan abad ke-12 tidak ada keterangna sedikitpun mengenai negeri melayu. Untuk membuktikan persahabatan, Raja kertanegara mengirimkan Arca Amogapasha beserta keempat belas pengiringnya ke melayu. Pada alas arca tersebut dituliskan bahwa Kertanegara menghadiahkan arca bagi srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa. Arca Amogapasha kemudian diletakkan ditempat suci Dharmasraya. Saat ini prasasti Arca Amogapasha berada di padangroco (Sumatera) yag bertarikh 1286 M.

Dalam perkembangan selanjutnya, Kerajaan Melayu mampu memainkan peran kembali di Sumatera pada pertengahan abad ke-14. Pada saat itu melayu diperintah seorang Raja bernama Adityawarman. Nama Adityawarman disebutkan pada Arca Manjusri di candi Jago, Jawa Timur. Didalam prasasti tersebut diterangkan bahwa Adityawarman bersama-sama Gajah Mada telah berhasil menaklukkan pulau Bali.

Sebenarnya Adityawarman merupakan salah seorang putra Majapahit keturunan melayu. Ia adalah putra dari perkawinan Raden Wijaya dengan Dara Jingga. Sebelum menjadi Raja di kerajaan melayu, ia pernah menjabat wredhamenteri (menteri tua) di Majapahit dengan gelar aryadewaraja pu Aditya. Setelah berkuasa di melayu, ia menyusun kekuatan untuk melebarkan kekuasaan di Sumatera. Hasilnya, pada tahun 1347 Melayu dapat meluaskan wilayah sampai ke daerah pagaruyung (minangkabau). Adityawarman adalah seorang penganut Buddha Tantrayana. Ia menganggap dirinya sebagai penjelmaan Lokeswara, sehingga setelah meninggal dunia diwujudkan dalam bentuk arca Bhairawa. Masa pemerintahan Adityawarman berlangsung sampai tahun 1375. Penggantinya ialah anaknya yang bernama Anangwarman. Masa pemerintahan Anangwarman tidak banyak diketahui sumber sejarahnya
.

Readmore..

Sejarah kerajaan Kanjuruhan

kerajaan yang pertama kali muncul di Jawa Timur adalah Kerajaan Kanjuruhan. Banyak dari para ahli menduga bahwa Kanjuruhan merupakan kelanjutan Kerajaan Ho-ling yang pusat kekuasaannya dipindahkan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Munculnya Kanjuruhan diketahui dari prasasti Dinoyo di daerah Malang yang berangka 760, menggunakan huruf Kawi dan berbahasa Sansekerta. 

Didalam prasasti Dinoyo diceritakan bahwa Kerajaan Kanjuruhan diperintah oleh Raja Dewasimha, setelah meninggal, Ia digantikan oleh putranya Limha yang kemudian beralih nama menjadi Gajayana. Gajayana beragama Hindu yang memuja dewa Agastya. Ia membangun sebuah candi yang indah untuk sang Agastya. Ia pun membuat membuat arca yang melukiskan agastya dari batu hitam yang sebelumnya dibuat dari kayu cendana. Bersamaan dengan pentasbihan bangunan suci tersebut. Gajayana menganugerahkan sebidang tanah, sapi dan kerbau, serta budak laki-laki dan perempuan sebagai penjaga kepada para pendeta. Selain itu, Raja mengutuk bagi mereka yang tidak mau memelihara bangunan suci beserta kelengkapannya.

Pusat kekuasaan Kerajaan Kanjuruhan berada di Desa Kejuron sekarang ini. Disebelah utara desa tersebut, terdapat bangunan Purbakala peninggalan kerajaan Kanjuruhan , yaitu Candi Badut. Letak candi Badut tepatnya di desa Badut sekitar 9 km dari Malang. Candi Badut merupakan candi tertua di Jawa Timur. Seni bangunan candi masih berlanggam Jawa Tengah, karena memiliki serambi pada tubuh candi. Bangunan kuno keagamaan tersebut bersifat Siwaisme (Hindu yang memuja Siwa). Buktinya di ruang tengah terdapat Lingga Yoni, di relung utara ada arca Durga dan di bagian halaman bangunan terdapat arca Nandi.

Kerajaan Kanjuruhan tidak lama berkembang. Kanjuruhan mungkin ditaklukkan oleh Mataram dan para penguasanya menjadi Raja Bawahan dengan gelar Rakyan Kanuruhan. Para ahli berpendapat, Rakai Wakutuka menaklukkan Kerajaan Kanjuruhan disekitar awal abad ke-10

.

Readmore..
 
© Copyright 2013Sejarah Kerajaan